Posted in The Mortals

Rini, Oh Rini…

Hello gorgeous!

Mengapa saya mencontek judul sebuah serial Indonesia semasa remaja, “Jinny, Oh Jinny” untuk tulisan kali ini? Karena sedikit banyak tulisan “Rini, Oh Rini” memiliki sepercik relevansi dengan kisah Jinny dalam serial tadi.

Jinny adalah sebentuk jin cantik yang terperangkap dalam kerang, sampai akhirnya seorang pemuda tampan ‘menyelamatkan’ Jinny. Mengabdilah Jinny pada mas Bagus – nama pemuda itu. Rini adalah seorang gadis muda yang terperangkap dalam kerang masa lalunya. Dan belum diselamatkan. Masih menolak diselamatkan. Atau mungkin… takut untuk menyelamatkan diri…

Sebelum beranjak lebih jauh, baiknya kita mengenal seorang Rini. Dari kacamata saya, tentu saja…

Rini Lestari terlahir pada tanggal 30 Juli 1996. Leo, sama seperti saya. Saat ini dia masih mengunyah bangku sekolah – SMA Kelas 2.
Kulitnya coklat, lagi-lagi sama seperti saya.
Iris matanya hitam, lagi-lagi sama. Tipikal Indonesia, sebenarnya.
Rambutnya hitam dan lurus. Dulunya rambut itu panjang, tetapi saat terakhir bertemu muka, rambutnya telah dipotong sebatas leher. Sayang sebenarnya…
Rini tidak tinggi, tidak juga pendek. Dia agak chubby, tetapi tidak gendut.

Bagaimana saya mengenal Rini?
Kalau tidak salah, sejak bulan Maret 2013, saya mengemban tugas untuk memberikan kelas privat kepada beberapa anak di sebuah panti sosial bernama HdT. Dalam satu rumah terdapat belasan anak dengan latar belakang yang berbeda-beda dan kisah hidup yang beragam pula. Setelah beberapa bulan menjadi pendatang di HdT, mengajar, dan bahkan ikut menghabiskan jatah makan siang secara rutin, bertemulah saya dengan Rini.

Kesan pertama saat bertemu: pemalu dan menyimpan penolakan. Itulah perasaan yang muncul pada awal perjumpaan. Kami belum berinteraksi secara pribadi. Masih dalam grup – saat saya datang dan menunggu kelas dimulai, saat saya bergabung dalam acara makan siang. Aura penolakan ini bukan hanya saya rasakan datang dari Rini, melainkan juga dari anak-anak lain. Entah ini hanya perasaan saya saja, atau memang demikian adanya. Saya tidak layak menghakimi, hanya berhak memberi opini.

Pada tanggal 23 Juni 2013, saya dan Rini secara resmi bersinggungan. Bukan dalam arti negatif. Saat itulah, Rini menjadi murid saya, untuk kelas bahasa Indonesia ekstrakurikuler. Kesan yang masih tinggal: pemalu. Bermunculan pula kesan lain: tertutup, berhati-hati, tidak percaya diri, dan manis.

Kelas perdana kami mulai dengan perbincangan, utamanya tentang mengapa saya berada di situ, mengapa kami berada di situ. Sebagai permulaan, saya memintanya untuk membuat sebuah tulisan tentang saya. Tentang kesannya atas saya. Dan, yah, dia menuliskan sisi positif yang dilihatnya dari diri saya. Saya tidak bisa terima. Saat dia punya kesempatan untuk mengungkapkan kesan mendalam, baik dan buruk, yang dituliskan hanyalah kesan baik yang superficial. I need more, girl!

Rini bukanlah orang yang enggan untuk berbagi, sebenarnya. Bukan juga orang yang tidak bisa berempati. Kami sering bertukar cerita, berbagi kisah hidup. Sayangnya, banyak kepahitan masa lalu – dan masa sekarang – ia simpan sebagai beban. Akan lebih mudah jika ia melepaskan semua emosinya. Meneriakkan kemarahan. Menumpahkan tangis kesedihan. Memuntahkan seruan kekecewaan. Menuntut jawab atas tanya yang masih menjadi rahasia. Luapan yang cukup dilakukan sekali dengan kekuatan seorang singa betina, tetapi dapat berakhir dengan kelegaan yang luar biasa. Ketenangan setelah badai.

Namun, saat ini dia memilih untuk membukukan masa lalu dan masa sekarang. Kemudian membacanya setiap saat. Mengingatnya setiap detik. Jika memang jalan ini lebih menyenangkan untuk dipilih, maka belajarlah melepaskan. Beratnya sama seperti menggendong hewan-hewan peliharaan yang masih punya kaki. Akan lebih mudah dan ringan jika sejarah-sejarah berkaki itu dibiarkan berkeliaran. Mereka masih bisa dipandang, didekati sesekali, dibelai sesekali, tetapi tidak lagi memberatkan.

Masa lalu itu bukan sesuatu yang bisa dihapus. Kamu merasa hidupmu tidak beruntung karena kamu dibesarkan di tengah keluarga yang menurutmu payah? Ya sudahlah… Orang tua bukanlah hal yang bisa kamu pilih. Terimalah mereka seperti apa adanya mereka. Marahlah pada mereka saat memang kemarahan itu layak diungkapkan. Tanyakanlah rahasia besar yang ingin kamu gali dari orangtuamu. Tidak mendapatkan jawaban? Kejarlah. Masih juga tak berjawab? Cari tahulah dari sumber lain yang mungkin bisa memberikan jawaban. Atau teruslah bertanya sampai mereka bosan berkelit.

Kamu merasa tidak diinginkan? Berkembanglah. Jadilah seseorang yang akan diinginkan banyak orang. Tidak perlu menjadi artis, terlalu muluk. Berusaha untuk jadi yang terbaik dalam bidang yang kamu suka, itu sudah cukup. Saat ini kamu masih merasa tak diinginkan? Sabar… Perjuangan menuju puncak adalah proses yang tidak mudah. Namun tetap bisa terasa menyenangkan, asal kamu menyukai apa yang kamu lakukan. Do what you loveLove what you do

Kamu merasa orang lain tidak pernah puas akan hasil kerjamu? Berbuatlah lebih. Berjuanglah lebih keras. Bekerjalah lebih baik. Saat kamu menyempurnakan kinerjamu sedikit demi sedikit, mata-mata yang buta akan terbuka dan mulut-mulut yang nyinyir akan terkatup.

Kamu merasa takut mempercayai orang-orang lain dengan rahasia-rahasiamu? Bukalah diri. Saat kebaikan dan keburukanmu sudah menjadi rahasia umum, tidak ada lagi yang bisa dibicarakan di belakang. Mengapa? Karena bahkan kamu sendiri dengan rela menerima segala keburukan dan kebaikanmu, dan dengan lega bisa membaginya. Kalau toh akhirnya ada pembahasan tentang keburukanmu, biarkan saja… Justru hal-hal semacam itu yang bisa membantu kamu untuk menangkap ekspektasi atau harapan orang lain atas kamu.

Beberapa paragraf di atas adalah sebagian dari banyak hal yang ingin saya sampaikan pada Rini. Sepertinya pernah saya ungkapkan secara langsung, saya sedikit lupa. Saya ingin dia menjadi lebih tangguh, lebih rileks dalam menjalani hari-harinya, lebih terbuka pada orang lain, lebih spontan dalam mengungkapkan emosinya. Janganlah melulu mengungkapkan hal-hal yang ingin orang dengar, atau hal-hal yang seharusnya diucapkan sesuai norma yang berlaku. Mengungkapkan kejujuran, baik manis maupun pahit, memiliki kebaikannya sendiri.

Saat ini, kami melakukan sebuah proyek jangka panjang berupa blog untuk Rini. Harapannya, Rini memiliki wadah untuk mengekspresikan pemikirannya, perasaannya, masih dalam naungan struktur berbahasa yang baik. Cita-citanya, agar dinding-dinding yang dia bangun di dalam dirinya sendiri runtuh sedikit demi sedikit.

Love,
^nee^

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s