Posted in The Stories

Mozaik

Hello gorgeous!

Ini adalah mozaik. Dari goresan-goresan pena virtual seorang kawan…
Ini adalah mozaik. Dari 9 serpihan kisah…
Bacalah. Dan nikmati…

Love,
^nee^

. . .

Untuk pertama kalinya…
Kulihat kau bergerak membelakangiku..
Sepertinya banyak hal yang menyudutkanmu akhir-akhir ini..
Kau marah padaku?
Kau bosan padaku?
Aku telah melakukan kewajibanku untukmu…
Aku seduh bubuk kopi hitam kesukaanmu sebelum kau beranjak dari ranjang dingin kita!
Aku sajikan secawan biskuit isi selai kacang dan secangkir teh tawar panas beberapa saat sebelum kau pulang dan meninggalkan meja kerjamu.

Untuk kali pertama aku bertanya padamu…
“Kau lelah?”
Aku memberanikan diri merapatkan tubuhku padamu, merenggangkan dasi pucatmu dari kerah kemeja kerjamu yang beraromakan keringat letih, tanpa berani aku menangkap langsung caramu menghadapiku.
Kau diam sayang….
Sedangkan rasa ingin tahuku begitu menggebu. Seolah ingin rasanya mengepungmu dengan puluhan…bahkan jutaan pertanyaan! Tapi Tuhan masih memberikanku kesabaran seluas doaku…..
Aku menahan diri untuk bertanya, aku berusaha melumat dan menelan habis jutaan pertanyaanku untukmu!!

“Sayangku, apakah bosmu memarahimu dan mengkritik pekerjaanmu hari ini?” Pertanyaan yang paling aku benci untukmu, sejenak dalam hati aku meminta maaf telah terlanjur menanyakannya.
“Hmmff..” Kau menarik nafas panjang dan menghembuskannya begitu cepat, secepat raut wajahmu yang berubah jadi dingin dan sinis, lalu dengan cepat kau bergegas masuk kedalam kamar tanpa menyentuh sedikitpun teh yang kusajikan di atas meja ruang tengah untukmu…..

Sayangku….
Apa salahku? Sehingga kau begitu muak melihatku… Kau tak peduli padaku…
Beri aku sedikit jawaban dari raut wajahmu yang dingin…
Supaya aku berfikir, supaya aku tak hilang akal untuk berusaha menjadi yang terbaik untuk mendampingimu…

Tuhanku…
Petang datang, dia tak juga keluar dari kamar. Padahal beberapa hari yg lalu, kami masih duduk dan bercanda diatas sofa ruang tengah. Padahal beberapa hari yang lalu dia masih menyambutku dengan peluk hangat dan kecupan lembut di dahiku.
Apa yang membuatnya jadi seperti ini?
Dan aku masih menunggunya untuk duduk dan berbincang santai di ruang tengah…

Jantungku berdegup bgitu kencang. Rasanya ingin berlari dan memelukmu. Tak sabar ingin menanyakan… “Apa salahku padamu?” Itu saja!!.
Tapi pintu kamar tak kunjung kau buka. Sementara aku telah menyediakan makan malam dengan menu kesukaanmu.
Aku menunggumu lagi di ruang makan…
Aku menantikan saat-saat aku menaruh beberapa sendok nasi hangat di atas piringmu,  menaruh lauk ikan asin diatas kepulan nasi hangat, dan menuang kuah sayur lodeh diatasnya tepat jam delapan malam.

“Klegh!!” Pintu kamar terbuka, kau keluar dari kamar kita dengan kemeja kerja yang berkerut tak rapi…
Batinku lega, disusul helaan nafas panjang. Aku beranjak dari bangkuku, dan kembali bertanya,
“Kau akan lembur malam ini sayang?”
Aku berharap kau akan menjawabnya, dan akan kuterima dengan lapang dada apapun jawabanmu itu.
“Yah…” Hanya itu jawabmu.
Itupun sama sekali sepasang mata indahmu tak menatapku lekat.
Lalu kau segera berlalu dari hadapanku..

Aku berlari kecil menyusulmu sampai teras rumah..
Jujur saja sayang, aku tak mampu lagi menahan keinginanku untuk mencegahmu pergi sebelum semuanya kau jelaskan padaku perihal yang terjadi..
“Sayang..”
Panggilku lirih dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangis dalam kolam emosi yang egois-kupikir-
“……” Kau diam dan menoleh dengan tatapan dingin.

Dan aku berlari kearahmu, akhirnya aku menanyakannya…
“Apa salahku sayang??”
Pertanyaanku ini mewakili jutaan pertanyaan yang selama ini tertelan mentah-mentah!
Tanyaku… Kuserahkan padamu dalam peluk yang erat..
Dan tak akan aku lepas sebelum kau menjawabku dengan jujur…

Dan jawabmu hanya kau wakilkan lewat sepasang mata yang berkaca-kaca…
Bibirmu bergetar tanpa sepatah kata pun kluar dari mulutmu..
Kudengar jantungmu berdegup dengan cepat, melebihi degup jantungku…
Kini kedua tanganmu yang kaku, menangkap dan menyambut pelukku perlahan..
Desah sedihmu terhembus lewat hangat nafas dari kedua lubang hidungmu..
“Maafkan aku istriku sayang..aku tak sanggup melihatmu pergi dengan sakit yang kau rasakan…”

Kelegaan hebat datang dari Tuhanku lewat petang yang sepi. Rasanya, pertanyaanku terjawab sudah..
Dan aku tak perlu merubah apapun dari diriku untukmu..

“Sayangku…Aku mencintaimu..”
Aku pikir, kata ini saja yang cukup aku smpaikan padamu..
Sampai waktu itu datang menjemputku!
Sampai akhirnya…aku hanya sejauh doamu..

. . .

Dari Jeunk Hesti Blog

“Satu…”
“Dua…”
“Tiga….”
“Empat….”
“Lima….”
“Enam…”
“Tujuh….”
“Delapan….”
“Sembilan Dan Sepuluh…”

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

One thought on “Mozaik

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s