Posted in The Lessons

Jika…

Hello gorgeous!

Satu prinsip yang masih kupegang hingga saat ini: “Jangan pernah menyesal.”

Sejak aku (merasa) memegang kendali atas hidupku sendiri, mengurus segala keperluanku sendiri, aku menerapkan prinsip ini. Pasalnya, setiap pilihan yang akhirnya aku ambil, setiap jalan yang pada akhirnya aku tempuh, adalah buah otakku sendiri… Jadi, sudah selayaknya aku menyadari dan mempertimbangkan segala resiko yang mungkin kutanggung atas masing-masing pilihan yang ada di depan mata. Setiap keburukan, kesedihan, kesakitan, kerepotan yang pada akhirnya muncul setelah aku mengambil sebuah pilihan, adalah resiko yang lahir karena keputusanku.

Namun, ada sebuah rahasia besar yang perlu kita tahu, yaitu… aku adalah wanita! Sejenis manusia yang biasanya bergumul secara dahsyat dengan perasaan.

Kewanitaan ini menjadi justifikasi bagiku untuk mengeluh dalam hati, memberikan tempat bagi sepercik penyesalan. Sepercik saja.

Alhasil, kata ‘jika’ itu sempat singgah. Bukan hanya sekali, tentu saja…

Mari kita simak mantan-mantan ‘jika’ yang pernah dengan semena-mena merambati relung-relung hatiku. Jiahhh…

. . .

Jika aku berpegang teguh pada cita-citaku semula untuk menjadi biarawati, mungkin hidupku akan lebih damai dan tentram. Tidak ada lagi kekuatiran duniawi. Tidak ada lagi kegalauan tentang makhluk yang berlabel ‘lelaki’. Tidak ada tagihan-tagihan yang harus dibayar. Tambah lagi, kedua orangtuaku akan merasakan kebahagiaan ekstra. Sudah lama mereka menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi biarawan dan biarawati.

Namun…

Jika aku tidak membelokkan arah – menjalin hubungan dengan seorang pria kala itu, menghapuskan keinginan hidup membiara, dan melanjutkan kuliah di Jogja – aku tidak akan pernah merasakan sulitnya membiayai diri sendiri. Penghargaan dan rasa sayang pada mama dan papa justru terasa melimpahruah saat aku mulai bekerja untuk menghidupi diriku sendiri, sejak 5 tahun silam, membayangkan beban yang mereka pikul selama berpuluh tahun – membesarkan 5 anak dan memberikan kesempatan kepada kami berlima untuk mencicipi bangku pendidikan secara layak. Luar biasa…

. . .

Jika aku tidak ‘bermain api’ saat berpacaran dengan mantan terakhir, saat ini aku akan menjalani hari-hari dengan senang. Rasa sepi tentu malas menghampiri. Tidak perlu juga sibuk berkelit dari pertanyaan orang tua tentang kelangsungan kisah percintaanku. Tidak perlu juga mendengarkan tawaran terselubung dari mereka berdua untuk mengabdikan diriku ke biara – lagi-lagi…

Namun…

Jika aku masih bersamanya, aku akan terus menerus dihantui oleh pemikiran bahwa dia tidak akan memberi ujung yang baik bagi hubungan kami. Sekedar info saja, dia atheis, dia tidak percaya pada konsep pernikahan, dan dia tidak ingin memiliki anak. Setidaknya, saat itu, begitulah perasaan dan pemikirannya. Aku tidak pernah berani bertanya, pun memulai diskusi tentang 3 topik rawan itu. Pernah kami coba, dan tidak pernah ada titik temu. Jadi… ya sudahlah…

. . .

Jika aku lulus kuliah lebih cepat, mungkin lebih terbuka lebar kesempatanku untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih bonafit atau untuk melanjutkan kuliah dengan mengandalkan beasiswa.

Namun…

Nah… Aku tidak bisa berkelit untuk pen-jika-an yang satu ini. Sepertinya tidak ada sisi baik dari memperlama usia kuliah. Yah, memang saat itu dengan mengabaikan skripsi, aku punya waktu lebih banyak untuk bekerja, aku punya waktu lebih banyak untuk mengaktifkan diri di organisasi paduan suara kampus, aku punya waktu lebih banyak untuk mengurus pacarku saat itu, dan aku punya waktu lebih banyak untuk memanjakan diriku sendiri. Haha…

. . .

Sampai detik ini, baru terpikir 3 penjikaan itu. Ternyata, menjadi terbiasa dengan paham “No regret” berakibat pada ingatan jangka panjang tentang efek pilihan di masa lalu. Hehehe…

Untungnya, aku merasa cukup nyaman dengan aku yang sekarang. Lebih dari cukup, bahkan… Pilihan-pilihan di era purba hidupku adalah hal-hal yang membentuk aku yang sekarang.

Jika keadaannya berbeda…
Jika jalan yang kupilih berbeda…
Aku akan menjadi orang yang berbeda…

Tidak akan ada Rani yang merasa seperti wanita dan berpikir seperti laki-laki.
Tidak akan ada Rani yang tidak rendah hati tetapi tidak juga arogan.
Tidak akan ada Asteria Rani, seorang karyawan di PT Gameloft Indonesia.
Tidak akan ada mbak Rani, sang guru privat gaul. 🙂
Tidak akan ada Rani yang menyanyi setiap Sabtu malam.
Tidak akan ada Nee yang menciptakan blog ini…

 

Love,
^nee^

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s