Posted in Just My Days

Aku – Aku, Kamu – Kamu

Kamu memang sejatinya tidak menginginkan aku…
Kamu menginginkan orang lain dengan kualitas yang aku miliki…

Atau mungkin…
kamu menginginkan aku
tapi dengan kualitas ideal yang ada di kepalamu
atau bahkan dengan kualitas yang dimiliki orang lain…

Aku adalah aku.
Aku adalah wanita yang tidak lemah lembut dalam tutur kata.
Aku adalah wanita yang tidak mengiyakan seluruh pendapatmu.
Aku adalah wanita yang tidak keibuan.
Aku adalah wanita yang ingin berkarir bahkan saat aku membentuk keluarga kelak.
Aku adalah wanita yang menggelegar saat marah.
Aku adalah wanita yang lebih menggemari berteman dengan laki-laki, karena persahabatan yang mereka tawarkan lebih erat dan setia.

Aku belum bisa berhenti tidur larut malam, atau bahkan masih terjaga hingga dini hari.
Aku belum bisa meninggalkan koleksi hotpants dan baju tanpa lengan, karena pakaian ini membuatku nyaman.
Aku belum bisa menghilangkan sumpah serapah yang meluncur keluar dari mulutku, seringkali secara tak sadar.

Jika memang aku yang seperti ini
adalah segala hal yang tak akan pernah bisa kamu terima,
berkatalah…
Maka aku akan melangkah mundur dari rasa ingin memilikimu.

Bagiku,
menghabiskan waktu bersamamu,
tanpa perlu menjadi istimewa bagimu,
tetaplah istimewa bagiku.

Berteman,
bersahabat,
dengan kamu
adalah hal yang nyaris sama baiknya dengan menjadi orang yang istimewa buatmu.

Kamu adalah kamu.
Kamu adalah orang yang mengundang kekagumanku,
mengundang kekesalan pula seringkali,
memancing tanda tanya  banyak kali,
menimbulkan rasa jengah beberapa kali.

Kamu masih saja menikmati jawaban ngawur saat aku bertanya.
Kamu bercanda dengan ketidakpedulian yang luar biasa.
Kamu melontarkan pertanyaan yang sulit kujawab pada diskusi tanpa canda.
Kamu tidak berhenti membingungkanku dengan “I like you” dan “I don’t like you” yang silih berganti kamu ungkapkan.
Tapi persetan…

Aku adalah aku,
dan kamu adalah kamu.
Biarlah menjadi seperti itu…

Kalau boleh, aku menyebut eksistensi kita sebagai kebodohan.
Kebodohan pertama, saat kita bertukarkata untuk pertama kalinya.
Kebodohan kedua, saat kita mulai pergi berdua saja, bersama.
Kebodohan ketiga, saat akhirnya kamu beranjak mendekapku.
Kebodohan ini masih melanjutkan kisahnya.
Kamu tahu itu,
dan aku juga…

Aku ingin bicara tentang kemana kebodohan ini akan menuju.
Tenang saja,..
Aku menginginkan kamu, masih…
Tapi tidak lagi mengingini kamu.

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

4 thoughts on “Aku – Aku, Kamu – Kamu

  1. a..again who is this guy?
    does my favourite writer find “a man” that suits her?
    and yet, she’s still being her as herself
    thats what makes me adore this writer

    i..did miss my fav writer, i..really did want to say more rather than just
    “tenkyu jg ya.. g’night”
    for the record: she didnt beat my writer but i am the one who is beating for her again

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s