Posted in Just My Days

Dua Bisu

Aku menyesap batang rokok kedua. Kamu menyulut yang pertama.

Bukan yang kedua dan pertama untuk hari ini. Melainkan yang kedua dan pertama sejak kita selesai bergulat saling menjelajahi satu sama lain.  Dengan ketergesaan dan gairah yang – mungkin – sama-sama sudah terlalu lama terabaikan.

Kemeretak bara rokok menjadi pengisi acara utama pada momen itu. Dengan kepulan asap sebagai efek latar. Sementara kita… masih diam. Asing…

Sempat ekor mataku menangkap kamu memukul kening, menyumpah lemah. Darinya aku lihat ketidaksetujuanmu atas apa yang baru saja terjadi. Penyesalan, mungkin….

Mulutku gatal ingin berkata. Ingin bertanya. Namun, belum lagi otakku selesai menyusun kata, hatiku terlanjur enggan. Enggan berkata. Enggan bertanya.

“Apa sih yang kita lakukan?”
“Apa arti aku buat kamu?”
“Apa maksud dari kebersamaan ini?”
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Besok, lusa, dan seterusnya?”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Apa yang kamu rasakan?”

“Aku tidak sepenuhnya menikmati yang sudah terjadi.”
“Apakah kamu tahu bahwa hal ini membuatku sedih setengah mati?”
“Aku menyayangi kamu, dan terlepas dari apa yang sudah terjadi, aku tetap tidak akan memaksamu untuk balas menyayangiku secara sama…”

Mampat. Semuanya mampat di kepala.

Kenihilan bunyi membawaku kembali pada satu jam yang lalu.

Aroma Swiss yang keluar dari tubuhmu…
Dada telanjangmu sedikit lembab oleh keringat…
Rambutmu kacau…
Bibirmu…lembut… Mungil…
Tidak kutemukan seonggokpun lemak di lekuk tubuhmu.
Polahmu tenang.
Tatapmu lembut… Namun sarat kebingungan. Dan kekhawatiran…

Sesekali tanganmu menyusuri helaian rambutku.
Tak lupa pula kamu mengacak-acak tatanan rambutku. Aku suka…
Kita terkikik saat tembok sialan itu memukul kepalamu. Dan kepalaku.
Kita melengkapi satu sama lain dengan canggung. Dengan rasa malu, takut.
Kamu dan aku, sama tidak yakinnya…

Kita berhenti sebelum mencapai garis finish.
Terlalu ragu untuk melangkah maju.
Penjelajahan selesai.
Dan kita berdekapan… Berhadapan… Dalam diam…

Sama diamnya seperti saat batang-batang rokok tadi mulai dibakar.
Sama sunyinya seperti saat lenggak-lenggok asap mulai memenuhi sudut-sudut kamar.

Saat akhirnya kita berdua mampu berkata-kata, masih saja tidak ada penjelasan atas apa yang terjadi. Aku paham, kamu memilih untuk memikirkannya dulu. Aku paham, adalah kesalahanku juga yang tidak mampu menelurkan satu pun kata tanya.

Terlalu kalut untuk berlama-lama bersamamu, aku putuskan untuk menyingkir. Menghalau diriku sendiri dari hadapanmu. Setidaknya untuk hari ini…

“Mas, aku pulang.”

“Ya…”

. . .

Kamar masih gelap saat aku membuka mata. Sedikit tak percaya saat menyadari bahwa aku baru saja bermimpi.

Sebagian dariku berharap mimpi itu menjadi nyata. Sebagian lain menolak mentah, terlalu takut dengan konsekuensinya.

Mungkin mimpi ini adalah pertanda bahwa aku harus bicara padamu. Tentang letakku dalam hidupmu.

Ah, kamar masih gelap. Waktunya untuk kembali tertidur lelap…

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

2 thoughts on “Dua Bisu

  1. what happened to my favourite writer??
    who is this swiss guy?
    there’s no shame to tell the truth
    go for it.. gorgeous

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s