Posted in The Lessons

Patah

Hello gorgeous!

Pagi ini luar biasa…

Bukan karena ini adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di kantor sedini ini. Pukul 7:27.

Bukan pula karena pagi ini saya mulai dengan acara saur bersama di Gudeg Ibu Jelek. Berlanjut dengan sesi bimbingan skripsi di KFC Sudirman, sebelum akhirnya saya mengantarkan Ebel ke Stasiun Tugu untuk kembali ke habitat asalnya di Purworejo.

Pagi ini luar biasa karena seorang wanita akhirnya terpatahkan… Patah dari percaya-nya. Patah dari harap-nya. Ya… pagi ini luar biasa dalam kesuraman dan kesakitannya. Sesuram awan yang menutupi matahari yang malu-malu. Sesakit tusukan hawa dingin pagi ini.

Dia berusaha mencintai. Dia bersikeras menyayangi tanpa henti. Saat pria yang ingin direngkuhnya mematung seperti pohon. Mampu dipeluk saat ia mau. Memilih terdorong angin menjauh saat ia tak ingin digapai oleh tangan sang wanita.

Sang wanita telah berusaha percaya. Percaya bahwa akan ada akhir yang baik bagi dia. Walaupun harus ada bimbang dan takut. Walau sempat jatuh dan terluka. Yah, memang, tidak melulu dia diabaikan. Sang lelaki pernah menjadi penyayang. Pernah menjadi pencinta. Pernah menjadi pendamba. Sekali, dua kali, tiga kali. Ah! Sudah banyak kali. Kelakuan minus yang membingungkan…

Dengan pasang surut ini, dia bertahan mencintai. Saat disakiti, dia berusaha lebih mencintai. Saat sakit yang lebih hebat mendatangi, dia memaksa diri untuk memberikan cinta yang lebih besar lagi.

Sayangnya, seperkasa apapun seorang wanita, sekeraskepala apapun hati seorang wanita, dia punya batas keperkasaan dan ke-keraskepala-an. Luka-luka yang terus-menerus ditorehkan mematahkan percaya-nya satu demi satu, sedikit demi sedikit.

Saat akhirnya dia mampu mengalirkan air mata, dia tahu bahwa dia telah tiba di ujungnya. Air matanya adalah bukti bahwa pertahanannya telah runtuh. Ketegarannya telah pupus. Bukan pupus kandang, pemirsa.

Berhenti mengharapkan dan berhenti menunggu sang lelaki sepertinya adalah jalan yang harus dia pilih sekarang. Sakit, mungkin. Namun tetap lebih baik daripada terus-menerus mengijinkan air matanya jatuh untuk ketidakpastian, untuk harapan-harapan yang meneriakkan kepalsuan.

Patah mungkin berarti bahwa dia akan menjadi lebih kuat. Patah mungkin berarti bahwa sang lelaki akan menyadari bahwa dulu dia selalu ada untuknya. Patah mungkin berarti bahwa dia akan membuka matanya untuk hal-hal lain yang lebih indah.  Semoga…

 

Love,
^nee^

. . .

Untuk Hesti

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

2 thoughts on “Patah

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s