Posted in The Lessons

Konsistensi Dan Konsekuensi

“Masih ingatkah kamu? Aku pernah bilang bahwa kamu harus membatasi perasaanmu ke aku.”

Kalimat itu adalah satu dari sekian banyak katamu. Kata yang mewakili definisimu akan kita. Ya, KITA…

Aku tidak mampu lagi menyebutnya sebagai AKU DAN KAMU. Tidak – saat apa yang kita jalani sudah tidak lagi sebagai AKU saja, atau KAMU saja..

Aku tidak pernah menuntut sebuah status.
Aku tidak pernah memohon akan keistimewaan.
Satu kali pun!

Keinginanku saat ini sederhana…
Konsistensi. Ya, konsistensi…

Saat kamu tega membatasi ruang gerakku untuk lebih dari sekedar menyukai kamu,
kamu menyeretku untuk menerabas pembatas yang kamu pasang,
dan kemudian menemaniku dalam diam.
Tanpa penjelasan atas inkonsistensi yang kamu lahirkan.

Jika kamu menyukai aku,
kemudian menyayangiku,
atau mungkin bahkan mencintaiku,
adalah keharusan bagimu untuk mendefinisikan kita.
Itulah konsekuensi.

Dan bukan definisi yang seperti ini…
Bukan definisi seabstrak seni.
Bukan definisi seblur kabut.

Kamu pikir selama ini aku baik-baik saja?
Hah!
Aku mampu tertawa bukan karena aku baik-baik saja. Aku mampu tertawa karena aku merasa bertanggungjawab untuk merespon teman-temanku, yang mungkin sama tidak tahunya akan mendungnya hatiku.
Aku mampu tersenyum bukan karena aku baik-baik saja. Aku mampu tersenyum karena aku masih bisa memaksa otakku untuk meyakini bahwa senyumku pada akhirnya akan meluluhkan kamu. Atau setidaknya, membuatku lebih kuat mengabaikan gelapnya perasaanku.

Ah, tidak ingin sebenarnya, aku mengeluh seperti ini…
Kalaupun kumpulan kalimat ini dapat ditahbiskan sebagai keluhan.
Tapi, yah…
Aku saat ini adalah aku yang sudah tidak punya daya.
Sudah tidak punya kata untuk menterjemahkan isi otakku, isi hatiku.
Sudah tidak sanggup berupaya untuk menanamkan kebohongan-kebohongan kecil yang mengatakan bahwa kamu akan menelurkan kata-kata ajaib tentang ke-kita-an, bukan ke-aku-an, bukan ke-kamu-an..

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

4 thoughts on “Konsistensi Dan Konsekuensi

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s