Posted in Just My Days

Dan Ketika…

I’ve done it!

Barisan kalimat yang nyaris membasi akhirnya menyapa telingamu. Akhirnya…
Aku tidak peduli kemanakah kalimat-kalimat itu akan menuju. Sebelah telingamu yang lain kah? Otakmu kah? Hatimu kah?
Yang terpenting bagiku adalah bahwa saat ini kamu tahu…
Tahu bahwa sebelumnya sempat ada keresahan yang menggeliat serta kegilaan yang menggelinjang, di balik diamku.

Kemudian kamu meletakkan dirimu di atas kursi terdakwa.

Aku bukan pria baik-baik…
Seburuk apa?
Sangat buruk… You don’t know anything about me.
Then, tell me. How I supposed to know without you telling me any?
I’m just bad, very bad.
Hey, perasaanku tidak bergantung pada seperti apakah kamu. Kamu buruk, ataupun baik, rasa suka ini akan tetap ada.
. . .

Dan kita melanjutkan malam.

Aku dan kamu berbicara, tentang “kita” (yang sebenarnya tidak pernah ada), tentang kamu, tentang dia, tentang masa lalu, kemudian tentang “kita” lagi.

Dan ketika kita bercerita tentang “kita”, lagi-lagi perasaanku harus bersaing dengan logikaku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu…

Apakah kamu menyukaiku?
Ya…
Apakah kamu menyayangiku?
Tentu saja…
Kapankah kamu akan berhenti menyayangiku?
I don’t know…
Jika kamu melihatku bersama wanita lain, akankah kamu cemburu?
Bisa jadi…
Jika tiba-tiba suatu saat aku mengirimkanmu sebuah undangan pernikahan, antara aku dengan seseorang, akan sedihkah kamu?
Bisa jadi…
Jika suatu saat aku menghilang, akan sedihkah kamu?
Ya…
When will you hate me?
I have no idea. Maybe never.

Dan ketika itu, legalah aku… Dan (mungkin) bingunglah kamu…

Aku tidak mengerti apa yang kamu inginkan sekarang.
Mungkin kamu ingin aku pergi menjauh, menghilang dari hidupmu.
Atau kamu benar-benar berharap bahwa aku akan membencimu.
Mungkin kamu ingin aku mengejarmu lagi seperti dulu.
Ah, sudahlah…

Ketika aku mengekskresikan isi benakku, mengejarmu tidaklah penting.
Saat ini adalah saat bagiku untuk menunggu.
Aku sudah mengetuk pintu.
Kamu membukakan pintu untukku.
Kamu mempersilahkan aku masuk.
Aku mengungkapkan bahwa aku menyukai kediamanmu.
Kamu menjawab dengan basa-basi, ‘Terima kasih’.
Aku memohon untuk boleh dibiarkan menginap beberapa malam disana.
Kamu menawarkan segelas kopi hangat, makan malam yang nikmat.
Namun, kamu tidak mengiyakan permohonanku.

Ya, inilah saatku menunggu.
Menunggu kamu untuk mengijinkan aku tinggal.
Atau menunggu kamu untuk mengusirku secara gamblang
dan menghempaskan pintu rumahmu di belakang punggungku
yang harus berjalan pergi, sendiri…

Dan ketika kata-kata penghabisan itu keluar dari mulutmu,
aku akan menjadi lebih bahagia.

Aku masih ingin berada bersamamu,
asalkan kamu juga menginginkanku untuk berada bersamamu.

Aku tidak takut kehilangan kamu,
karena memang aku tidak pernah memiliki kamu.

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s