Posted in Just My Days

Antara Jember dan Jogja

Hello gorgeous!

Mari berjumpa dengan aku yang dahulu. Aku yang memiliki mimpi-mimpi, mimpi-mimpi yang beterbangan di batas kota kelahiranku, Jember. Ya, hanya sampai di situ saja anganku bergentayangan.

Tidak pernah sekalipun aku melihat diriku berdiri di satu sudut kota ini, kota dimana aku memijakkan kakiku sekarang. Tidak ada sebersitpun harapan untuk saling berpelukan dengan keriuhan dan kesenyapan Jogja, kediaman keduaku…

Jogja adalah buah cinta…
Dahulu, cintaku membawaku kepada kota ini. Demi menyusul sang kekasih pujaan hati, kaki-kakiku memulai perjalanannya di atas tanah Jogja.

Namun, cinta itu butuh pengorbanan…

Kala itu, tahun 2003. Tahun sebelumnya, kakak perempuanku meninggalkan Jember untuk menggapai masa depannya di kota Malang. Orangtuaku tidak pernah menggemari ide bahwa anak-anak mereka akan merantau, meninggalkan rumah yang menjadi tempat perlindungan mereka sejak kecil.

Kembali pada pertengahan 2003, kebahagiaan menghiasi seisi rumah. Indra lulus SMP. Aku lulus SMA. Dengan nilai yang baik, pula.
Mama sibuk dengan urusan sekolah. Indra sibuk dengan pendaftaran SMA, dan aku sibuk mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Mama sempat berbinar-binar penuh terimakasih, saat tahun itu aku mewakili mama untuk membantu Ike – sepupuku – mendaftar di sebuah SMA. Mama terbilang sibuk saat itu, mengingat jabatannya sebagai wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Hectic!

Agustus 2003, kabar gembira bagiku akhirnya tiba. Aku diterima sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta. Aku bahagia. Pacarku (saat itu) bahagia. Mamaku murka.

Orangtuaku – terutama mama – tidak pernah menyangka bahwa aku akan memilih Jogja sebagai destinasi utama. Mereka berharap bahwa aku akan tinggal di Jember, mengingat bahwa salah satu anak gadis di keluarga kami sudah memilih kota lain sebagai tempat tinggal kedua.

Selama beberapa hari, suasana rumah memanas. Mama memasang aksi mogok bicara, hanya terhadapku saja. Sama kerasnya, aku tidak mau bertukarkata dengannya.

Sampai akhirnya, papa memberikan ijin untukku mengejar masa depanku di Jogja. Aku pergi tanpa ijin mama, biarlah. Aku pergi diiringi omelan kakakku, biarlah. Yang terpenting adalah: aku sudah mendapatkan ijin papa, dan aku bisa berdekatan lagi dengan lelakiku… Itu cukup…

Kepulanganku ke rumah sekitar seminggu setelahnya, sedikit banyak membuatku terhenyak. Mama, yang kupikir masih akan melancarkan aksi mogoknya, malahan menyapa dengan cerah ceria. Beliau bahkan menjahitkan baju yang akan kupakai saat OSPEK. Keadaan sungguh berbalik. Heran, dan senang… Begitulah keluarga… Mereka akan bahagia saat kamu bahagia…

Berjumpalah kita dengan aku yang sekarang, yang diwarnai oleh Jember dan Jogja. Kisah Jogja dan Jember berikutnya masih penuh warna. Tidak melulu hitam, atau putih. Tidak juga selalu abu-abu. Warnanya mengalahkan tujuh rupa warna pelangi. Jogja dan Jember, dua kota yang memiliki hatiku, tanpa perlu berebut untuk mendapatkannya…

Love,
^nee^

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s