Posted in Just My Days

Malu?

Teringat lagi masa-masa dulu, saat aku mengenalmu sebatas nama dan kejenakaan. Saat dimana cerita tentangmu belum mengalir sederas sekarang.

Kala itu, kita makan siang bersama, kita meneguk kopi bersama, menghisap berbatang-batang rokok, dan mengepulkan asapnya di sela-sela kisah, canda, dan gelak yang kita bagi. Awalnya selalu sama, kamu beranjak lebih dulu, kamu memanggilku lewat sebaris pesan singkat, kemudian aku menyusulmu – selalu. Atau sebaliknya, aku yang beranjak lebih dulu, kemudian memanggilmu untuk mengusir kesendirianku, dan kamu datang – kadang tidak. Akhir dari pertemuan-pertemuan itu juga berpola. Kita pergi bersama, kemudian kamu menciptakan jarak – satu atau dua meter – dan membiarkanku melangkah di depanmu, atau membiarkanku memandangi punggungmu dalam jarak yang kamu ciptakan.

Masih kala itu, fenomena yang nyaris sama terjadi setiap kali kamu berada dalam lingkaran pertemananmu. Kalian bertukarkata, sekali dua kali terbahak. Entah apa yang kalian bicarakan, aku tidak mampu menangkapnya. Dan toh aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah bahwa kamu ada dalam jangkauan pandangku. Berkali-kali aku memasang senyuman, mencuri pandang ke arahmu, berharap akan ada saat dimana mata kita bersirobok, dan kamu menangkap senyumku, dan kamu membalasnya dengan senyuman yang lain. Harapan ini menjadi repetisi tanpa hasil, setiap kali.

September 2013

Dan… sampailah kita pada titik ini. Titik dimana aku mengakukan perasaanku. Titik dimana kamu mengungkapkan perasaanmu. Kita saling menyukai. Ah… tidak… Apa yang kita rasakan sudah lebih dari sekedar ‘suka’. Lebih dari sekedar ‘sayang’, mungkin.

Pada masa ini, aku berada pada pemahaman bahwa aku menginginkan kamu, lagi. Keinginan yang pernah memenuhi rongga-rongga jiwaku, mendesak begitu kuatnya sampai-sampai terlalu menyesakkan untuk kutanggung. Keinginan yang akhirnya menguap ketika aku menyerah atas diammu padaku. Dan keinginan itu muncul lagi, dengan nyala redup, namun semakin menguat secara pelan dan pasti.

Hatiku berkata, saat ini kamu juga menginginkan aku… Tanpa perlu bertanya padamu, aku yakin, bahwa kamu menginginkan aku… Keyakinan yang berdasar pada kekitaan yang mempresentasikan eksistensinya saat kamu dan aku berada dalam ruang kecil milik kita sendiri.

Ketidakpedulian yang dahulu tetaplah sama: aku bagaikan manusia tak kasat mata saat teman-temanmu ada. Kita masih saja menjadi pejalan sunyi sebelum dan sesudah kita menggenapi pertemuan-pertemuan singkat di sekitar ruang publik yang kita bagi bersama. Dan, seperti yang sudah kerap terjadi, dalam ruang publik yang berlabel ‘kantor’, kita lagi-lagi menjadi orang asing bagi satu sama lain… Terlalu kerap, hingga menjadi tradisi.

Tradisi ini yang menjadi pertanyaan. Apakah alasan di balik pengabaianmu atas aku, di area ruang publik yang satu ini?

Jawaban terbaik yang terpikir olehku adalah: malu. Entah malu atas aku – karena aku berkulit gelap, kusam, dekil, tidak cantik, tidak lemah lembut, dengan gaya berpakaian dan attitude yang berbeda dari betina-betina lain di ruang ini, sehingga terlihat berdampingan denganku adalah tindak kriminal. Atau malu atas kamu – karena teman-temanmu akan menggodamu habis-habisan jika mereka tahu kamu sedang mendekati seseorang.

Asumsiku belum tentu benar, walaupun aku meyakini bahwa kebisajadiannya mendekati angka seratus persen. Aku tidak akan menuntutmu untuk memberikan jawaban yang benar. Tidak. Biarlah pembuktian asumsi ini terwujud di saat yang kamu inginkan, di saat yang kamu rasa tepat. Sementara menunggu momen itu datang, akan kubiarkan gaung pertanyaan itu dan jawaban pilihanku bergentayangan bebas…

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

One thought on “Malu?

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s