Posted in The Mortals

Luka yang Belum Bisa Sembuh

Hello gorgeous…

Sebelum aku berbicara lebih banyak,  perlu kunyatakan dulu, bahwa kisah ini bukanlah kisah tentangku.. Ini adalah kisah seorang gadis yang kukenal. Seorang gadis yang mulai berani membuka dirinya, setidaknya padaku.

Sejauh aku mengenalnya, bertambahlah pengetahuanku tentangnya… walau hanya sedikit.

Satu hal yang tertangkap jelas… ia memelihara segores luka, yang ditorehkan oleh ayah kandungnya, jauh sebelum aku mengenalnya.
Berkali kami menulis bersama, dan ayahnya muncul berkali pula dalam rangkaian kata yang ia tuliskan.
Bahwa ia menyayangi ayahnya.
Bahwa ia merasa ayahnya selalu memalingkan wajah darinya.
Bahwa ia merasa ayahnya memberikan ruang yang berbeda baginya, dibandingkan dengan kedua saudaranya yang lain.
Bahwa ayahnya sering menyakitinya secara fisik.
Bahwa ayahnya melupakan hari ulang tahunnya.
Bahwa ia memiliki keinginan yang begitu besar untuk bertemu dengan ayahnya.
Bahwa ia begitu ingin tampak hebat di depan ayahnya – sekedar untuk membuat ayahnya merasa bangga, atau mengakui kemampuannya dan eksistensinya.

Luka ini tidak akan bisa sembuh, kecuali gadis ini akhirnya memiliki keberanian untuk membuka sebuah percakapan, atau memulai sebuah konfrontasi dengan sang ayah.
Dan hal ini tidak akan pernah terjadi, kecuali gadis ini memutuskan untuk meninggalkan ketakutannya yang terlalu besar akan sebuah kejujuran yang menyakitkan.

Setiap kali aku memotivasi dia untuk menjadi lebih frontal, kami selalu kembali pada titik yang sama…
“Kalau aku mengatakan perasaanku, yang itu menyakitkan bagi orang itu, aku takut orang itu akan marah padaku. Dan pada akhirnya, aku akan menyalahkan diri sendiri dan kemudian jadi rendah diri dan tidak percaya diri.”
Ya, memang sulit sekali untuk mengungkapkan kejujuran atas perasaan, apalagi sebuah perasaan yang negatif – yang bisa jadi destruktif bagi diri sendiri dan orang lain. Terlebih di Indonesia,  utamanya Jawa, dimana basa basi menjadi sebuah tradisi.
Tapi, apalah gunanya menyimpan borok bagi diri sendiri,  yang pada akhirnya hanya akan menjadi luka yang tidak bisa sembuh?
Apalah gunanya menyimpan gerutu dan kritik akan orang lain, hanya untuk membuat orang lain berjalan di tempat dengan segala keburukannya?
Saat memang harus ada yang disampaikan,  mengapa harus dibangun kotak hitam untuk menyimpan keluhan dan pertanyaan? Bukankah lebih mudah untuk memajang semuanya di tanah lapang? Agar kasat mata. Toh, tidak semua hal yang dipajang merupakan opini buruk.

Hal kedua yang cukup membahagiakan: ia menjadi lebih terbuka dan lebih banyak bicara. Ia juga suka mendengarkan. Hahay… cocok sekali! Karena, bagaimanapun, aku gemar bercerita. 🙂
Dan semakin banggalah aku, saat orang lain bercerita padaku bahwa dalam kesehariannya – saat aku tidak di dekatnya – ia menunjukkan perkembangan dalam hal keterbukaan.
Akhirnya… dinding yang tak kelihatan itu runtuh juga… sedikit demi sedikit..!

Hal ketiga, sebuah saran… Ia perlu mengembangkan kemampuannya berbahasa. Permasalahan struktur kata, diksi atau pilihan kata, dan kekayaan kosakata masih menjadi masalah baginya. Satu cara untuk keluar dari permasalahan ini: banyak membaca! Membuka mata terhadap kekayaan dunia literatur merupakan solusi. Tambah lagi, dunia saat ini tidak hanya terbatas pada dunia fisik. Kelapangan dunia maya menjadi perluasan kesempatan bagi setiap manusia untuk mengecap informasi dan referensi.

Hal keempat yang tertangkap: masih ada beberapa hal yang ditutupinya dariku. Aku tidak terlalu berharap bahwa aku akan mengetahui semua rahasia hidupnya. Namun, apabila kondisi itu dimungkinkan terjadi, aku akan merasa bahagia. Dan bangga. Atas diriku sendiri dan atas dirinya.

Hmmm… sementara ini hanya beberapa paragraf yang bisa kusampaikan. Semoga hidupnya berangsur membaik. Dan semoga ia bisa menemukan dirinya di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin riuh rendah.

Love,
^nee^

. . .

Dedicated to this girl (RL).

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s