Posted in Just My Days

Suatu Jumat

Seperti biasa… Pagi hariku kuluangkan di kantor. Hingga pukul 5. Jumat lalu sebenarnya tidak terlalu menyebalkan. Lebih cenderung menyedihkan dibandingkan menyebalkan, tepatnya. Oke, kita runut saja ceritanya…

9:00 pagi. Aku baru kembali dari dunia mimpi. Reaksi pertama: PANIK! Jelas saja… jam kantor dimulai pukul 8 pagi. Jam 9 dan bahkan belum bersiap berangkat adalah sebuah dosa. Dan kesialan. Bodohnya… aku bahkan tidak mendengar alarmku menjerit!

Tiba di kantor kurang lebih pukul 9:40. Tanpa mandi. Hanya menggosok gigi, mencuci muka, dan memasang make up (hahaha…).

Jumat lalu, Jogja masih sama memprihatinkannya. Panas membara! Jadi… BT-lah aku sejadi-jadinya. Berkat cuaca yang membakar. Berkat gerah bagaikan di neraka. Dan berkat terlambat ke kantor. Okesip. Untungnya,  Jupy (si bos) memilih untuk melewatkan kesempatan mengomel atas keterlambatanku.

Sedikit siang, Parmi menyapa, lewat Skype. Ia menanyakan tentang tawaranku untuk bermain bilyard yang terlontar pada Kamis malam, yang tidak bisa kupenuhi karena aku harus mengikuti latihan paduan suara, dilanjut dengan janji temu dengan seorang provider paintball – urusan kantor…

Sebagai penebusan tawaran bilyard yang belum sempat terlaksana, aku mengulang tawaran yang sama, untuk Jumat malam. Dasar Parmi, ia mati-matian berkelit, menolak tawaranku. Terlalu jengkel, aku memutuskan untuk membiarkan dia bermain dengan dunianya. Lebih baik tak acuh, daripada harus menambah kejengkelan yang sudah menggunung sejak pagi.

Setelah jam makan siang, keadaanku dan moodku berangsur membaik. Pasalnya, aku menyempatkan diri untuk mandi, menumpang di kamar mandi burjo (merangkap kos-kosan) di dekat kantor. Thanks to Ibu Tri. 😉

Mas Parmi, saat itu, juga beranjak jinak. Phew… syukurlah… Ditambah lagi, menjelang jam pulang kantor, ia mengirimkan pesan, agar aku memberinya kabar jika aku tetap ingin mengajaknya bilyard. Okay, it’s all set, then…

Selepas jam kerja, aku hanya punya 1 murid les untuk didampingi. Salah satu murid les – sesi pertama – membatalkan kelas kami. Jadilah aku mengajar pukul setengah 7, dan menyelesaikannya pukul 8. Setelahnya… tentu saja… berangkat ke tempat Parmi.

Sesampainya di sana, ternyata beliau sedang makan di burjo terdekat. Ia menyempatkan untuk kembali ke kos, memberiku kunci kamar, dan kembali ke burjo untuk menyelesaikan makan malamnya. Es milo menjadi oleh-oleh buatku,  sekembalinya ia dari burjo.

Akhirnya, setelah menyesap habis es milo, kami berangkat ke Bliss Pool & Lounge. Kami pindah ke Shelter Pool, yang lebih baik dibandingkan mendekam di Bliss sebagai waiting list ke 27. Gila!

Sesi bilyard berakhir pada pukul 12. Dan pergilah kami. Ke burjo Agus, Condongatur. Kami menghabiskan malam dengan bicara. Dia yang lebih banyak bicara dan bercerita, sebenarnya… Dan tentu saja, aku menjadi pendengar yang baik, untuk kali kesekian.

Ia bercerita tentang seorang mantan kekasih. Yang menjalani hubungan bersamanya sebelum wanita sempurnanya mengisi hidupnya.

Kisah demi kisah bergulir. Mau tak mau, kisah yang keluar dari mulutnya sampailah pada masa dimana ia menghabiskan hari-harinya bersama si wanita sempurna.

“Dia itu sempurna sekali. Pintar masak. Tomboy tapi modis. Manis sekali.”

“Sampai sekarang, aku belum menemukan sesosok wanita yang bisa menggantikannya di hatiku. Itulah kenapa hariku penuh dengan yang semacam ini saja. Belum ada yang cocok. Belum ada yang seperti yang kuinginkan.”

Dan aku disana, sebagai seorang yang bersamanya selama ini, menyayanginya sebagai seorang kekasih, memujanya sebagai seorang manusia yang baik, yang kuanggap balas menyayangiku. Tapi… aku menginterpretasi sebuah kenihilan akan perasaan sayang darinya untukku, malam itu.

Aku kembali pada titik ketidakyakinan. Dimana kebenaran akan perasaannya sekali lagi menjadi samar. Pikiranku dan perasaanku bagaikan terjangkit glaukoma, semuanya menjadi kabur… blur…

Aku kembali jatuh. Terperangkap di dalam sumur tua yang dalam dan terpencil, tidak ada seorang pun bisa menemukanku, dan membantuku keluar dari kedalaman yang gelap dan menyesakkan…

Malam itu kuhabiskan dalam diam. Dalam kesunyian yang menyesakkan. Dalam ketenangan yang melelahkan… Aku berada dalam kematian…

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s