Posted in Just My Days

Lana

“Lan!” Sebentuk suara yang sudah tak asing di telinga, menyentakkan Lana dari lamunannya.

“Dih, jangan ngagetin gitu dong, Ndut!” Lana berujar dengan sedikit jengkel pada salah seorang kawan dekatnya, Fiola. Sementara Fiola hanya cengengesan puas. “Lagian, sekarang kamu jadi sering gak konsen gitu. Ngelamun mulu! Bukan salah akuh dong kalo kamu kagetnya overdosis gitu,” Fiola membela diri.

Lana menghela napas. Dan kembali tenggelam dalam kegundahannya sendiri. Tentang persoalan yang belum diceritakannya sekali pun pada Fiola…

. . .
Suatu hari di kampus.
Lana panik. Ia membutuhkan beberapa buku sebagai referensi untuk menyelesaikan tugas kuliah, dan ia belum mendapatkan satu pun! Putus asa, ia meredam rasa gelisahnya, dan melangkahkan kakinya ke ruang dosen. Ia memutuskan untuk meminjam buku-buku dari dosen-dosen di Jurusannya.
Saat itu, ia hanya mendapati seorang dosen, yang tentu saja dikenalnya, namanya adalah Pak Sugi. Pak Sugi pernah mengampu Lana untuk satu mata kuliah yang diambilnya semester lalu.
Pak Sugi adalah pria yang smart. Lana mengagumi Pak Sugi atas kemampuan intelektualnya yang luar biasa.
Lana menjalankan niatnya untuk meminjam buku. Sasarannya: Pak Sugi, berhubung tidak ada dosen lain yang dapat dijadikan target.
Sore itu adalah awal dari pergolakan batinnya…

Tiga bulan berlalu sejak hari itu.
Selama itu pula Lana dan Pak Sugi saling bertukar pesan singkat. Seringkali, isi pesan mereka menyiratkan adanya sesuatu yang lebih dari hubungan antara dosen dan mahasiswa. Lana menyadarinya. Dan mulai khawatir, karena satu fakta yang ia tahu: Pak Sugi sudah beristri dan memiliki anak.
Bagaimanapun, kekaguman Lana pada Pak Sugi mampu mengalahkan logikanya…
Pesan singkat berubah menjadi tatap muka di luar kampus – entah di sebuah kedai es krim, atau kafe kopi.
Tatap muka berubah menjadi perjumpaan yang dibatasi oleh empat dinding, terlindung dari mata dan telinga saksi-saksi hidup perjumpaan mereka. Ini adalah saat dimana Lana dan Pak Sugi bersentuhan secara fisik. Menjelajah. Menelaah. Untungnya, Lana, sedikit bangga, mampu menjaga sebuah miliknya yang paling berharga – keperawanan.
Tapi tetap saja. Pria beristri tetaplah pria hak milik wanita lain. Lana dirongrong oleh rasa bersalah dan gumpalan rasa lain, yang mampu membuat Lana kehilangan konsentrasinya akhir-akhir ini…

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s