Posted in Just My Days

Fen

Tidak terasa tahun ajaran ini sudah memasuki semester kedua. Fen, seorang siswi kelas 2 SMA, mulai menggerakkan anak buahnya untuk memulai serangkaian kegiatan pembuatan Year Book – buku tahunan – sebagai kenang-kenangan terakhir bagi kakak-kakak kelasnya. Fen otomatis menyibukkan diri. Ia adalah ketua divisi Year Book tahun ini.

Fen adalah seorang perfeksionis. Karena itulah, ia tidak membiarkan sekretaris divisinya unuk menyusun proposal kegiatan ini. Fen memilih untuk melakukannya sendiri.
Hari itu hari Sabtu. Fen memutuskan untuk tinggal lebih lama di sekolah. Ia berniat menyelesaikan proposal Year Book sebelum minggu berakhir.

Sore menjelang. Fen meminta pacarnya, Gie, untuk menjemputnya. Toh proposal yang sedang digarapnya sudah hampir selesai. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada komputer di hadapannya, setelah mengirimkan sebuah pesan singkat pada Gie.

Setengah jam berlalu. Gie tiba di sekolah Fen. Gie bukanlah siswa di SMA yang sama dengan Fen. Gie telah menyandang status mahasiswa di salah satu universitas ternama. Karena sudah terlalu sering menemani Fen, Gie telah hapal seluk beluk sekolah Fen. Langsung saja ia menghampiri ruang OSIS dimana Fen berada.

Fen masih berkutat dengan proposal. Fen mengalihkan pandangannya sejenak untuk menyapa Gie, kemudian kembali memainkan jarinya di atas keyboard. Gie mengambil tempat duduk di samping Fen dan menunggunya hingga selesai.

Saat Fen tengah membereskan kertas-kertas yang berserakan dan mematikan komputer, tiba-tiba Gie mendaratkan sebuah ciuman di pipi Fen. Bukan yang pertama, memang, namun tetap saja membuat dada Fen berdesir. Ditambah lagi, Gie melakukannya di sekolah Fen! Walaupun sore itu sekolah Fen sedang sepi luar biasa, tapi tetap saja…

Gie mendekap Fen dan mulai melayangkan ciuman bertubi-tubi. Fen menghadapi dilema. Ia takut menolak. Dan di sisi lain, takut ada yang menangkap basah mereka. Ia hanya bisa pasrah, menunggu kewarasan Gie menyeruak. Yang ternyata tidak kunjung terjadi.

Gie mulai merambah area yang terlarang. Ia melanggar batasan yang ditetapkan oleh Fen. Ia memaksa Fen untuk melakukan hal yang tidak pernah diinginkan oleh Fen. Membayangkannya pun tidak. Gie memaksa Fen untuk menyerahkan keperawanannya. Tidak dengan kata-kata… Hanya tindakan. Dan Fen tidak mampu menghalangi Gie. Secara fisik, Fen kalah telak. Sehingga… terjadilah…

Fen sontak menangis. Sedih, karena ia kehilangan bagian yang berharga dari hidupnya, dari eksistensinya sebagai seorang wanita. Kecewa, karena selama ini ia menaruh keyakinan yang besar pada Gie bahwa mereka akan menjaga hubungan mereka di jalan yang lurus… Sebuah keyakinan yang hancur menjadi serpihan-serpihan di hati Fen.

Fen terisak di sudut ruang OSIS. Gie, seolah baru terjaga, mendekati Fen dengan panik, memohon maaf dan pengampunan Fen atas kesalahan yang dibuatnya.

Fen masih terisak, tak menghiraukan Gie. Dunianya berubah menjadi buram, dengan latar abstrak. Ini adalah goncangan terhebat di sepanjang hidup Fen.

Seelah behasil menguasai diri, Fen menghentikan tangisnya. Gie masih meminta maaf dan mengutuk dirinya sendiri atas apa yang ia perbuat. Fen lanjut membereskan barang-barangnya dalam diam. Dengan dingin, Fen meminta Gie untuk mengantarkannya pulang.

Peristiwa ini menghancurkan Fen. Meninggalkan sebuah lubang di kewarasannya…

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s