Posted in The Lessons

Mahasiswa Abadi… Or Not?

Hello gorgeous!

Pagi ini tiba-tiba keinget ama kejadian beberapa bulan lalu, saat salah seorang kenalanku minta kesediaanku untuk diwawancara. Namanya Mas Yudha. Beliau adalah kakak tingkat kuliah, bukan satu jurusan. Dulu kami saling kenal karena ikutan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sama, yaitu paduan suara kampus.

Setelah sekian tahun berselang, kami ketemu lagi di It’s Coffee, sebuah coffee shop di bilangan Jalan Magelang. Waktu itu aku lagi nongkrong ama temen-temen, dan Mas Yudha lagi nge-band. Beliau adalah vokalis band Jasmine Akustik! BTW, band ini oke punya looooh…

Usut punya usut, Mas Yudha juga kerja sebagai jurnalis di surat kabar Tribun Jogja. Ketika beliau sedang OTW membuat tulisan tentang “mahasiswa abadi” atau “kuliah lama”, jadilah aku sebagai salah satu narasumber.

Nah, berangkat dari topik yang pernah ditulis oleh Mas Yudha tersebut, aku jadi tergerak untuk menulis tentang topik yang sama.

Istilah “mahasiswa abadi” udah merajalela di kalangan kampus sejak lama, bahkan sebelum aku masuk kuliah di tahun 2003. Apalagi waktu aku mulai terlibat dalam UKM – semacam ekstrakurikuler – di kampus, banyak bertebaran kaum-kaum senior yang keberadaannya di kampus dianggap mendekati keabadian… Walaupun secara harafiah, istilah ini salah besar, setidaknya di kampusku, yang memberikan batasan masa kuliah maksimal selama 7 tahun – alias 14 semester.

mahasiswa abadi
Dari: Kompasiana – Inilah Faktor Penghambat Lulus Kuliah

Anyway, berdasar pengalaman dan pengamatan pribadi, ada beberapa faktor yang menyebabkan kuliah lama, melebihi rekor tercepat 3,5 tahun atau masa kuliah normal 4 tahun.

  • Kuliah disambi bekerja
  • Terlalu fokus di UKM
  • Takut ama Dosen Pembimbing TA (Tugas Akhir)
  • Gaul yang kelewatan
  • Nikah di tengah masa kuliah

Konon, setelah 5 tahun berdiam di Yogyakarta, aku memutuskan untuk mengeliminasi hubungan finansial dengan orangtuaku. Aku minta mereka untuk berhenti ngirim uang bulanan. Alasannya? Pertama, aku pengen belajar mandiri secara finansial. Kedua, aku pengen mengatur hidupku sendiri – dengan asumsi bahwa kemandirian finansial secara otomatis akan membuat orangtuaku berhenti (atau mengurangi) mengambil keputusan-keputusan atas hidupku atau mengajukan tuntutan-tuntutan yang ada hubungannya dengan hidupku. Resikonya, aku harus kerja untuk membiayai hidup di Yogya. Untungnya, rejeki nggak berhenti mengalir dari kerjaanku sebagai guru les privat. Demi kejar setoran, aku ngelesin 7 hari dalam seminggu, dari siang/sore sampe malem. Paginya kecapekan dan… bikin males ngampus. 😀

Selain kerja, aku juga masih aktif di UKM Paduan Suara Mahasiswa “Swara Wadhana”, dari masuk kuliah sampe lulus kuliah. Sebenernya, kalo dipikir-pikir, kegiatan di UKM nggak terlalu mengganggu kehidupan perkuliahan, asal kita pinter-pinter aja ngatur waktunya. Menjadi aktivis di UKM yang ditambah dengan punya pekerjaan sampingan atau aktivitas lain yang menyita waktu, inilah yang mendukung keanggotaan di grup mahasiswa abadi…

Kehidupan perkuliahanku pada 3,5 tahun pertama bisa dibilang lancar. Semua mata kuliah teori udah kutamatkan di semester 7, yang tersisa hanya mata kuliah TAS (Tugas Akhir Skripsi). Nah… dari sini udah mulai kacau. Aku butuh 1 semester untuk mendapatkan judul TAS – semester 8 diakhiri dengan ACC judul TAS. Selama semester 9 dan 10, aku garap proposal skripsi, isinya Bab 1 sampe Bab 3. Dosen pembimbing kedua, galaknya minta ampun! Setiap kali mau bimbingan, badanku panas dingin, super gelisah, dan grogi. Saat dosen pertama ngasih ACC penelitian, kubablasin aja penelitian dulu, bimbingan ama dosen keduanya pas udah selesai penelitian (cita-citanya gitu…). Setelah penelitian, aku sering menunda bimbingan skripsi sampe sekian lama (saking takutnya ketemu dosen)… sampe akhirnya niatku untuk nggarap TAS makin bubar… Daaann… di semester 14, aku baru nyadar kalo waktuku di kampus hampir habis! Langsung deh buru-buru ngejar dosen. Saat itulah, aku menyadari bahwa dosen pembimbing kedua sebenernya nggak galak, cuman tegas aja.

Faktor lain yang bikin lama kuliah adalah… gaul yang kelewatan. Ini adalah hasil pengamatanku selama beredar di kampus. Ada beberapa teman yang di sepanjang masa kuliah – dari tahun pertama sampe tahun ke-6 – hobinya adalah have fun, entah nongkrong, dugem, billiard, jalan-jalan ke mal, karaoke, atau sekedar ngumpul di kos ama temen-temen. Alhasil… kuliahnya terbengkalai dah tuh! Nggak salah juga sih kalo mau gaul, mau kumpul-kumpul ama temen-temen (apalagi yang dari luar kampus). Asal tau batesnya aja. Malemnya dugem, tapi paginya tetep bisa bangun buat kuliah… ato bimbingan skripsi. Nongkrong di kafe atau ngumpul di kos ama temen-temen, disambi garap tugas kuliah atau garap TA… Dibikin seimbang dong… having fun tapi tetep beres kuliahnya.

Mayoritas teman sekelasku di kampus lebih milih untuk jauh dari hal-hal yang sifatnya hedonis. Sebagian di antaranya mengambil pilihan untuk nikah muda – sebelum genap usia 21 tahun. Menurut pendapatku secara pribadi, sayang banget sih kalo di sela-sela masa kuliah, tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Soalnya, pasti kehidupan pernikahan (plus jet-lag yang menyertainya) bagaimanapun juga akan mempengaruhi motivasi kuliah. Apalagi kalo sampe punya anak sebelum lulus kuliah. Jadi terpaksa cuti kuliah. Abis cuti kuliah, ambil cuti lagi soalnya mau ngurusin bayi. Trus, cuti lagi karena anaknya belum bisa ditinggal sendirian di rumah. Trus… trus… trus… nggak kerasa, tau-tau udah 7 tahun terdaftar sebagai mahasiswa. Menurutku, sebaiknya hal-hal besar semacam ini dilakukan saat udah tamat kuliah. Lebih aman…

Menjadi mahasiswa abadi bukanlah hal yang buruk, asal ada ujungnya… Maksudnya gini, eksistensi kamu selama 5 – 7 tahun di kampus, harus berakhir dengan Wisuda. Jadi, jangan sampe Drop Out. Anggaplah pencapaian akhir itu – yang ditandai dengan Ijazah S1 –  sebagai hadiah buat orangtua kamu, terlepas dari mereka biayain kamu atau nggak selama kuliah bertahun-tahun.

Dan bukan cuma bagus di ujung, sepanjang prosesnya juga harus memberikanmu sesuatu, gals! Percuma deh kalo kuliahnya dimolor-molorin, kalo selama molor itu kerjaanmu hibernasi dari dunia luar. Kamu harus dapetin manfaat dari masa-masa “menjemput keabadian” di kampus. Misalnya: memperluas jaringan/koneksi bisnis, beli barang penting dari hasil kerja sambilan (HP, laptop, komputer, TV, kulkas, sepeda motor, mobil, rumah), menambah ilmu di bidang lain (di luar jurusan yang diambil di kampus), dan sebagainya… Lakukan sesuatu yang membuat masa-masa kuliahmu worthy..!

Kalo suatu saat kamu melamar pekerjaan, dan di tes wawancara kamu ditanya tentang alasan kuliah lama, ya jawab aja alasannya apa dan pencapaian apa aja yang kamu raih saat itu. Orang yang kuliah lama dan punya pencapaian yang luas akan lebih menjanjikan dibandingkan dengan orang yang kuliah cepat tapi cuma bermodalkan teori perkuliahan. Kalo bisa kuliah cepat, pencapaiannya bagus, skill-nya terasah, dan kemampuan komunikasinya baik, bakalan lebih oke lagi, tentunya…

Mahasiswa abadi, or not, jangan sia-siakan masa kuliahmu cuma untuk buku kuliah. Teori tanpa praktek is a big NO!
Mahasiswa abadi, or not, jangan sia-siakan masa kuliahmu cuma untuk bersenang-senang. Bagi waktu untuk bersenang-senang dan berperang.
Pilihan ada di tanganmu, gals! Mahasiswa abadi… or not?

Love,
^nee^

Advertisements

Author:

I am a greedy person. I always want to get more, to be more, to gain more. Sometimes I feel like I can't get through my own mind. I couldn't even understand myself. That's why I create ExtraordinarNee. To see through me, and to be seen... :)

Write your comment down here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s